Lagenda Sangkuriang yang merupakan lagenda asal-usul munculnya Gunung Tangkuban
Perahu di Bandung. Lagenda Sangkuriang yang mencintai ibunya sendiri Dayang
Sumbi cukup terkenal dan sudah
difilmkan.(http://www.youtube.com/watch?v=1b2WadOzHuY)
Di Jawa Barat
tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah
yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang
terbalik. Diberi nama seperti kerana bentuknya memang menyerupai perahu yang
terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan
perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.
Beribu-ribu tahun yang
lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya
mempunyai seorang puteri. Puteri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan
cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di
beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing.
Dia menjatuhkan
pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian
kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun
yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu
diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan
pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya,
Dayang Sumbi harus menikahi anjing tersebut. Oleh kerana malu puterinya terpaksa
berkahwin dengan seekor anjing kerana ketelanjuran mulut sendiri, maka Dayang
Sumbi telah diusir keluar dari kerajaan oleh ayahandanya dan tinggallah dia
bersama dengan Tumang di tepi belantara.
Dayang Sumbi dan Tumang hidup
berbahagia hingga mereka dikurniakan seorang anak yang berupa anak manusia tapi
memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam
masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang
bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai
ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah
perkasa.
Pada suatu hari Dayang Sumbi teringin untuk memakan daging rusa
dan menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu. Setelah beberapa
lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin
mengecewakan ibu yang amat disayanginya. Maka dengan sangat terpaksa dia
mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia
menyerahkan daging Tumang pada ibunya. Dayang Sumbi yang mengira daging itu
adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.
Segera
setelah makan Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya
dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi setelah
didesak oleh ibunya berkali-kali.. akhirnya dia mengatakan apa yang telah
terjadi pada ibunya.
Dayang Sumbi menjadi sangat marah dan dalam
kemarahannya itu dia memukul Sangkuriang hingga pengsan tepat di belakang
tengkuknya dan akibat dari pukulan itu telah meninggalkan bekas luka yang sangat
lebar Atas perbuatan Sangkuriang itu, maka Dayang Sumbi telah mengusirnya
keluar. Maka keluarlah Sangkuriang dari kediaman ibunya mengembara tanpa hala
tuju sehinggalah dia ditemui oleh dua ekor jin kembar yang kemudiannya telah
menjaga dan mengajarnya dengan segala ilmu kesaktian.
Dayang Sumbi pula
dalam kesedihan yang amat sangat telah bersumpah untuk tidak memakan daging apa
pun dan hiduplah beliau dengan hanya memakan sayur-sayuran, buah-buahan dan
pucuk-pucuk kayu. Kerana amalannya itu, maka dia telah dikurniakan kecantikan
dan rupa paras yang tidak pernah dimakan usia. (amalan Dayang Sumbi ini kononnya
menjadi ikutan penduduk Bandung yang terkenal dengan kegemaran memakan
sayur)
Beberapa tahun kemudian, setelah Sangkuriang mengembara keluar
dari tempat tinggalnya untuk melihat dunia luar hinggalah dia tiba di kampung
tempat tinggal ibunya dan kemudiannya telah bertemu dengan seorang wanita yang
sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu
adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya.
Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang
hati.
Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang menyisir dan mengelus
rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di belakang
tengkuk Sangkuriang, akhirnya dia menyedari bahwa dia hampir menikahi puteranya
sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan
pernikahannya. Setelah berpikir panjang dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan
syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya
adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang boleh menutupi seluruh
bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu
harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.
Sangkuriang mulai
bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan
aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan dan kesaktian yang dia dapat dari
ayahnya dan dua ekor jim kembar untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan
lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat
sebelum fajar, Sangkuriang menebang pohon-pohon besar untuk membuat sebuah
perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan
pekerjaannya, dia berdoa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat
datangnya pagi.
Dia pun mula memanggil orang-orang kampung dan meminta
tolong. Yang lelaki berpura-pura bersiap-siap untuk keluar bekerja dan yang
perempuan pula mula bangun dan menyalakan lampu di rumah mereka untuk menyiapkan
sarapan pagi kononnya untuk menandakan fajar sudah mula datang. Segolongan
lelaki pula berlari ke arah ufuk timur untuk menyalakan jamung yang amat besar
yang kelihatan seperti fajar menyingsing bila dilihat dari jauh.
Apabila
melihat fajar yang bakal menyingsing, maka para jin yng membantu Sangkuring pun
bertempiaran melarikan diri dan meninggalkannya keserorangan dengan pekerjaan
yang hampir siap itu. Maka tahulah Sangkuriang bahawa dia telah gagal untuk
menyempurnakan tugasnya. Dalam kesedihan, sekonyong-konyongnya tiba-tiba
menjelmalah fajar yang sebenar dan tahulah dia bahawa Dayang Sumbi telah
menipunya.
Sangkuriang menjadi amat marah dan dipuncak kemarahannya,
perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan
berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban
Perahu(perahu yang menelungkup. Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul
pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Gunung
Bukit Tunggul.
Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak
menghilang di Gunung Puteri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun
Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung
akhirnya menghilang ke alam ghaib Ada juga diceritakan Sangkuriang dan Dayang
Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini di dalam
danau yang terbentuk dari bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh
bukit dipenuhi air..
No comments:
Post a Comment