Saturday, 13 August 2016

LAGENDA GUNUNG TANGKUBAN PERAHU

Lagenda Sangkuriang yang merupakan lagenda asal-usul munculnya Gunung Tangkuban Perahu di Bandung. Lagenda Sangkuriang yang mencintai ibunya sendiri Dayang Sumbi cukup terkenal dan sudah difilmkan.(http://www.youtube.com/watch?v=1b2WadOzHuY)

Di Jawa Barat tepatnya di Kabupaten Bandung terdapat sebuah tempat rekreasi yang sangat indah yaitu Gunung Tangkuban Perahu. Tangkuban Perahu artinya adalah perahu yang terbalik. Diberi nama seperti kerana bentuknya memang menyerupai perahu yang terbalik. Konon menurut cerita rakyat Parahyangan gunung itu memang merupakan perahu yang terbalik. Berikut ini ceritanya.

Beribu-ribu tahun yang lalu, tanah Parahyangan dipimpin oleh seorang raja dan seorang ratu yang hanya mempunyai seorang puteri. Puteri itu bernama Dayang Sumbi. Dia sangat cantik dan cerdas, sayangnya dia sangat manja. Pada suatu hari saat sedang menenun di beranda istana, Dayang Sumbi merasa lemas dan pusing.

Dia menjatuhkan pintalan benangnya ke lantai berkali-kali. Saat pintalannya jatuh untuk kesekian kalinya Dayang Sumbi menjadi marah lalu bersumpah, dia akan menikahi siapapun yang mau mengambilkan pintalannya itu. Tepat setelah kata-kata sumpah itu diucapkan, datang seekor anjing sakti yang bernama Tumang dan menyerahkan pintalan itu ke tangan Dayang Sumbi. Maka mau tak mau, sesuai dengan sumpahnya, Dayang Sumbi harus menikahi anjing tersebut. Oleh kerana malu puterinya terpaksa berkahwin dengan seekor anjing kerana ketelanjuran mulut sendiri, maka Dayang Sumbi telah diusir keluar dari kerajaan oleh ayahandanya dan tinggallah dia bersama dengan Tumang di tepi belantara.

Dayang Sumbi dan Tumang hidup berbahagia hingga mereka dikurniakan seorang anak yang berupa anak manusia tapi memiliki kekuatan sakti seperti ayahnya. Anak ini diberi nama Sangkuriang. Dalam masa pertumbuhannya, Sangkuring selalu ditemani bermain oleh seekor anjing yang bernama Tumang yang dia ketahui hanya sebagai anjing yang setia, bukan sebagai ayahnya. Sangkuriang tumbuh menjadi seorang pemuda yang tampan dan gagah perkasa.

Pada suatu hari Dayang Sumbi teringin untuk memakan daging rusa dan menyuruh anaknya pergi bersama anjingnya untuk berburu. Setelah beberapa lama mencari tanpa hasil, Sangkuriang merasa putus asa, tapi dia tidak ingin mengecewakan ibu yang amat disayanginya. Maka dengan sangat terpaksa dia mengambil sebatang panah dan mengarahkannya pada Tumang. Setibanya di rumah dia menyerahkan daging Tumang pada ibunya. Dayang Sumbi yang mengira daging itu adalah daging rusa, merasa gembira atas keberhasilan anaknya.

Segera setelah makan Dayang Sumbi teringat pada Tumang dan bertanya pada pada anaknya dimana Tumang berada. Pada mulanya Sangkuriang merasa takut, tapi setelah didesak oleh ibunya berkali-kali.. akhirnya dia mengatakan apa yang telah terjadi pada ibunya.

Dayang Sumbi menjadi sangat marah dan dalam kemarahannya itu dia memukul Sangkuriang hingga pengsan tepat di belakang tengkuknya dan akibat dari pukulan itu telah meninggalkan bekas luka yang sangat lebar Atas perbuatan Sangkuriang itu, maka Dayang Sumbi telah mengusirnya keluar. Maka keluarlah Sangkuriang dari kediaman ibunya mengembara tanpa hala tuju sehinggalah dia ditemui oleh dua ekor jin kembar yang kemudiannya telah menjaga dan mengajarnya dengan segala ilmu kesaktian.

Dayang Sumbi pula dalam kesedihan yang amat sangat telah bersumpah untuk tidak memakan daging apa pun dan hiduplah beliau dengan hanya memakan sayur-sayuran, buah-buahan dan pucuk-pucuk kayu. Kerana amalannya itu, maka dia telah dikurniakan kecantikan dan rupa paras yang tidak pernah dimakan usia. (amalan Dayang Sumbi ini kononnya menjadi ikutan penduduk Bandung yang terkenal dengan kegemaran memakan sayur)

Beberapa tahun kemudian, setelah Sangkuriang mengembara keluar dari tempat tinggalnya untuk melihat dunia luar hinggalah dia tiba di kampung tempat tinggal ibunya dan kemudiannya telah bertemu dengan seorang wanita yang sangat cantik. Segera saja dia jatuh cinta pada wanita tersebut. Wanita itu adalah ibunya sendiri, tapi mereka tidak saling mengenali satu sama lainnya. Sangkuriang melamarnya, Dayang Sumbi pun menerima dengan senang hati.

Sehari sebelum hari pernikahan, saat sedang menyisir dan mengelus rambut tunangannya, Dayang Sumbi melihat bekas luka yang lebar di belakang tengkuk Sangkuriang, akhirnya dia menyedari bahwa dia hampir menikahi puteranya sendiri. Mengetahui hal tersebut Dayang Sumbi berusaha menggagalkan pernikahannya. Setelah berpikir panjang dia akhirnya memutuskan untuk mengajukan syarat perkawinan yang tak mungkin dikabulkan oleh Sangkuriang. Syaratnya adalah: Sangkuriang harus membuat sebuah bendungan yang boleh menutupi seluruh bukit lalu membuat sebuah perahu untuk menyusuri bendungan tersebut. Semua itu harus sudah selesai sebelum fajar menyingsing.

Sangkuriang mulai bekerja. Cintanya yang begitu besar pada Sangkuriang memberinya suatu kekuatan aneh. Tak lupa dia juga menggunakan kekuatan dan kesaktian yang dia dapat dari ayahnya dan dua ekor jim kembar untuk memanggil jin-jin dan membantunya. Dengan lumpur dan tanah mereka membendung air dari sungai dan mata air. Beberapa saat sebelum fajar, Sangkuriang menebang pohon-pohon besar untuk membuat sebuah perahu. Ketika Dayang Sumbi melihat bahwa Sangkuriang hampir menyelesaikan pekerjaannya, dia berdoa untuk merintangi pekerjaan anaknya dan mempercepat datangnya pagi.

Dia pun mula memanggil orang-orang kampung dan meminta tolong. Yang lelaki berpura-pura bersiap-siap untuk keluar bekerja dan yang perempuan pula mula bangun dan menyalakan lampu di rumah mereka untuk menyiapkan sarapan pagi kononnya untuk menandakan fajar sudah mula datang. Segolongan lelaki pula berlari ke arah ufuk timur untuk menyalakan jamung yang amat besar yang kelihatan seperti fajar menyingsing bila dilihat dari jauh.

Apabila melihat fajar yang bakal menyingsing, maka para jin yng membantu Sangkuring pun bertempiaran melarikan diri dan meninggalkannya keserorangan dengan pekerjaan yang hampir siap itu. Maka tahulah Sangkuriang bahawa dia telah gagal untuk menyempurnakan tugasnya. Dalam kesedihan, sekonyong-konyongnya tiba-tiba menjelmalah fajar yang sebenar dan tahulah dia bahawa Dayang Sumbi telah menipunya.

Sangkuriang menjadi amat marah dan dipuncak kemarahannya, perahu yang dikerjakan dengan bersusah payah ditendangnya ke arah utara dan berada disana dalam keadaan terbalik, dan membentuk Gunung Tangkuban Perahu(perahu yang menelungkup. Tidak jauh dari tempat itu terdapat tunggul pohon sisa dari tebangan Sangkuriang, sekarang kita mengenalnya sebagai Gunung Bukit Tunggul.

Sangkuriang terus mengejar Dayang Sumbi yang mendadak menghilang di Gunung Puteri dan berubah menjadi setangkai bunga jaksi. Adapun Sangkuriang setelah sampai di sebuah tempat yang disebut dengan Ujung Berung akhirnya menghilang ke alam ghaib  Ada juga diceritakan Sangkuriang dan Dayang Sumbi menenggelamkan diri dan tidak terdengar lagi kabarnya hingga kini di dalam danau yang terbentuk dari bendungan yang dibuat Sangkuriang menyebabkan seluruh bukit dipenuhi air..

No comments:

Post a Comment